Superhero juga Ingin Mudik
Langit Malang yang cerah tiba-tiba dikejutkan oleh sosok blur berwarna merah dan kuning yang melesat di atas jalanan padat. Dialah Falcon Swift, superhero yang kekuatannya segalanya super.
Di balik kostum ketatnya yang gerah, tersembunyi Bambang, seorang karyawan swasta biasa yang sebenarnya juga sangat ingin segera sampai di kampung halamannya di Blitar.
Sayangnya, begitu mendengar berita kemacetan parah di jalur utama, naluri kepahlawanannya (yang entah muncul dari mana) langsung bergejolak.
"Demi kemanusiaan!" serunya dramatis sebelum akhirnya terbang dengan membawa ransel ajaibnya.
Hari itu, Falcon Swift sibuk bukan main. Permintaan bantuan datang bertubi-tubi melalui pendengaran supernya. Maklum hari itu adalah hari terakhir puasa, sebelum lebaran.
Salah satunya, "Kami terjebak macet di Nagreg, sudah tiga jam anak saya lapar sekali!" suara panik seorang ibu yang disertai tangisan seorang anak.
Tanpa babibu, Bambang langsung mengubah arah.
Dengan kecepatan angin, Bambang menyambar beberapa bungkus nasi ayam dan botol air mineral dari warung terdekat, tentu dengan sambil berteriak, "Hutang dulu Mbok!"
Beberapa menit kemudian, bungkusan itu sudah berada di tangan si ibu dengan tagihan 15 ribu Rupiah.
"Terima kasih, Falcon Swift! Anda penyelamat!" pekik si Ibu haru.
Bambang hanya bisa mengangguk bangga dari atas, menyeka keringat di dahi, dan kembali ke Mbok Ginah untuk menyerahkan uang nasi bungkus yang diambilnya.
Tak lama kemudian, permintaan lain datang. "Tolong! Mobil kami kehabisan bensin di Ciawi!"
Kali ini, Bambang sedikit mengernyit. Mengangkut bensin sambil terbang bukanlah ide yang cemerlang. Dengan hati-hati, dia mengisi bensin eceran dan membawanya terbang, menghindari kabel listrik dan layangan anak-anak.
Sayangnya, yang dibutuhkan bukanlah Pertalite, atau Pertalite yang dioplos Pertamax, yang dibutuhkan adalah Pertamax murni, sehingga Falcon Swift harus kembali dua kali.
"Ini dia, Pak! Jangan lupa lain kali cek bensin sebelum berangkat!" serunya sambil memberikan tagihan 25 ribu Rupiah, untuk Pertamax sekitar dua liter.
"Ya ampun, terima kasih banyak, Mas! Anda benar-benar pahlawan!" ujar si bapak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dan panggilan darurat yang paling sering adalah permintaan untuk "antar jemput toilet". Tentu saja, Falcon Swift tidak benar-benar mengantar sampai ke dalam toilet. Dia biasanya menurunkan pemudik di toilet umum terdekat, dan kemudian menunggu dengan sabar. Namun, hal ini adalah yang membuatnya memiliki uang receh yang banyak. Yang cukup untuk di donasikan ke oknum ormas masyarakat, yang belum kebagian THR.
Sampai waktu sore, tepat saat adzan Maghrib berkumandang, Bambang alias Falcon Swift sedang bertengger di atas menara masjid sebuah rest area yang penuh sesak. Perutnya keroncongan hebat. Aroma opor ayam dan rendang dari mobil-mobil pemudik menusuk-nusuk hidungnya, membuatnya semakin merindukan masakan ibunya di rumah.
Tiba-tiba, pendengaran supernya menangkap percakapan panik dari sebuah mobil yang terjebak di jalur arteri, jauh dari rest area. "Ya Allah, bagaimana ini? Ibu sudah lemas sekali, belum makan dari sahur tadi. Obat diabetesnya juga ketinggalan!"
Jantung Bambang mencelos. Dia tahu betul bagaimana rasanya menahan lapar dan dahaga seharian. Apalagi bagi seseorang yang sakit. Tanpa pikir panjang, hasrat mudiknya seolah tertahan oleh rasa iba yang lebih besar.
"Demi kemanusiaan dan kesehatan sesama!" gumamnya, kali ini dengan nada lebih tulus dari sebelumnya.
Falcon Swift segera terbang menuju sumber suara. Dengan kecepatan kilat, dia menyusuri jalanan tikus, menghindari kemacetan parah. Dia menemukan mobil keluarga itu di tengah kerumunan kendaraan yang tak bergerak. Seorang ibu paruh baya terlihat pucat dan lemah di kursi belakang.
"Tenang, Ibu!" seru Falcon Swift sambil mengetuk kaca jendela. "Saya Falcon Swift, ada yang bisa saya bantu?"
Dengan terbata-bata, si bapak menceritakan kondisi istrinya. Bambang segera bertindak. Dia terbang kembali ke rest area, menyambar sebungkus nasi padang (kali ini tanpa berteriak hutang, tapi langsung membayar dengan uang hasil "ojek toilet"-nya), sebotol air mineral, dan yang terpenting, menghubungi apotek terdekat dengan kecepatan supernya, meminta mereka menyiapkan obat diabetes yang disebutkan.
Dalam waktu singkat, Falcon Swift kembali dengan membawa makanan, minuman, dan obat yang dibutuhkan. Keluarga itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Melihat senyum lega di wajah ibu tersebut, hati Bambang menghangat. Rasa laparnya seolah sirna seketika.
Namun, tepat saat Bambang hendak berpamitan, sebuah suara familiar menusuk pendengarannya. Itu suara ibunya! "Bambang? Bambang, kamu di mana Nak? Ibu sudah masak banyak sekali ini. Kok belum sampai-sampai?"
Suara ibunya terdengar sedikit khawatir. Bambang terdiam di udara, bimbang antara kewajiban sebagai Falcon Swift dan kerinduan yang memuncak pada keluarganya. Dia melihat ke arah selatan, membayangkan rumahnya di Blitar, aroma masakan ibu, dan senyum hangat ayahnya.
Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya. Dengan senyum lebar, dia menghampiri keluarga yang baru saja ditolongnya. "Pak, Bu," katanya, "Kebetulan saya juga mau mudik ke arah selatan. Bagaimana kalau mobil Bapak saya terbangkan saja? Ibu bisa istirahat dengan nyaman di atas, nanti kita turun persis di depan rumah sakit terdekat di Blitar untuk mendapatkan penanganan yang lebih lengkap."
Mata keluarga itu terbelalak kaget, namun kemudian berbinar penuh harapan. Tanpa menunggu jawaban, Falcon Swift dengan kekuatan supernya mengangkat perlahan mobil keluarga itu ke udara. Dengan hati-hati, dia membawanya terbang melintasi kemacetan, menuju Blitar.
Di sepanjang perjalanan, Bambang menyempatkan diri menelepon ibunya. "Ibu, ini Bambang. Ibu jangan khawatir, sebentar lagi Bambang sampai. Bambang bawa 'oleh-oleh' sedikit. Kita lebaranan bareng ya, Bu!"
Terdengar suara tawa haru ibunya di seberang telepon. Akhirnya, Falcon Swift, sang superhero, bisa mudik juga. Bukan hanya dirinya, tapi juga membantu sesama yang membutuhkan. Sebab dia selalu teringat kata pamannya Peter Parker, "Seiring dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar".
Comments
Post a Comment