Posts

Dibangkitkan sebagai Pezina

Di akhirat, seorang hamba bertanya "Ya Tuhanku, kenapa Engkau membangkitkan aku sebagai pezina? Padahal aku menikah dengan sah". Tuhan menjawab, "Kau menjanjikan lahan pertanian pada istrimu untuk usaha bunganya, agar dia mau menikah denganmu dan menghalalkan kemaluannya. Dan setelah nikah, sampai kamu mati, nyatanya tidak". "Ya Tuhan. Itu kan cuma bercanda" kata hamba itu. Umpat Malik "Candaan Ndasmu!", sambil mengayunkan Goddamnya.

Dianggap Orang Udik

"Hey Bro, gue ada cerita lucu neh kemarin" kata Azam menghampiri Soim di kantin. "Astaga!" seru Soim, kaget Azam yang datang dihadapannya secara tiba-tiba. "Apaan sih Zam!". "Ceritanya, gue lagi mampir di Minimart. Perjalanan Malang Banyuwangi. Gue enak-enak tuh lagi duduk-duduk di teras Minimart, minum air mineral, dan jagung rebus pemberian teman Satpam Malang. Lalu datenglah Pajero Sport, dan berhenti dihadapan gue" cerita Azam. "Lalu, Lo sewot gitu, ngelihat mobil itu" sahut Soim, sambil melanjutkan menyendok mie ayamnya yang tinggal sedikit. "Oh, enggak lah, gue lebih kepengen Brio, yang lebih ramping" jawab Azam yang lalu menceritakan bahwa dari pintu sisi kemudi mobil itu, turunlah seorang cowok necis, pake celana pencil, dengan sepatu mirip si Komo. "Si Komo? ga lucu tuh" sela Soim. "Bukan itu Bro, laku dari sisi lainnya ini nih, turun cewek cantik dan seorang anak Bro. Dia cuantik, ramping dan ga pake m

Sebuah Solusi Kekerasan Rumah Tangga

Seorang istri, selalu terpuruk, sebab suaminya yang tidak ada hari, tanpa memukul. Sampai suatu hari, suaminya berubah pendiam, perhatian, selalu tersenyum dan tidak pernah memukul lagi. Sang Istri tambah bahagia, ketika mereka dikaruniai anak yang cantik, sehat, dan ceria. Ketika ditanya teman-temannya, mengenai rahasia perubahan suaminya itu, sang Istri itu menjawab "Nama suamiku Haryono, dan yang dulu bernama Slamet".

Si John Thor

"Bagaimana Mas, apa bener sudah tidak mau memperjuangkan gaji Mas yang tidak terbayarkan kemarin" tanya seorang Supervisor kepada John, mantan anak buahnya yang telah resign. "Ah. Sudahlah Pak. Saya sudah berusaha melupakan itu" jawab John. Mendengar jawaban itu, sang Supervisor berusaha menasehati, "Bukan begitu, bagaimanapun juga, itu hak-nya Mas. Kalaupun di 'garong', itu urusan yang lain". "Wah, maaf Pak" jawab keberatan John, teringat bahwa usaha meminta gaji yang telah merendahkan harga dirinya sebelumnya sia-sia. "Bagaimana ya Pak... saya sudah berusaha mengikhlaskan, jika seperti ini, Bapak malah membuat saya berharap kembali" tambahnya. John menjelaskan, jika dia merasa perusahaan yang dia tinggalkan itu tidaklah bersih. Banyak unsur manipulatif, karena dipimpin oleh boneka orang-orang yang merasa berjasa dan tidak bersedia digantikan. Terutama, John sendiri tidak ingin memberi nafkah anaknya yang baru lahir, dengan har

Kumis dan Laundry Baru

Sebuah keluarga sedang bercengkrama di ruang tamu. Melihat kumis suami sudah panjang, sang Istri menyindir dengan berkata kepada putrinya, "Tu, kumis daddy-mu sudah panjang, waktunya cukur!". Dengan tersenyum, sang Suami tersenyum dan menjawab sambil memandang anaknya "Biarin, besok Daddy mau ke Malang", menyindir sang Istri yang sering cemburu jika suaminya terlihat lebih ganteng ketika tidak berkumis. Karena sudah berusia enam tahun, si Anak dengan polosnya balik bertanya ke Ayahnya itu "Memang kenapa Dad?" "Biar tidak dicurigai. Daddy punya Laundry baru di sana" jawab sang Ayah seraya melirik istri. Si Anak mengkerutkan alis matanya, tanda semakin tidak mengerti.

Nyikut untuk Menjadi Profesor

Pernah suatu ketika saya bertemu dengan kakak tingkat yang masih mengikuti perkembangan Jurusan, tempat di mana saya kuliah dulu. Dia bertanya "Bapak A kok bisa-bisanya sudah jadi profesor, padahal Bapak B yang sudah dari dulu mengajukan, belum diangkat-angkat juga?". Karena memang tidak tahu, "Wah, aku gak paham Mas, bisa seperti itu" jawabku. Dengan tertawa kecut, kakak tingkat itu lanjut berkata "Aku tahu, Bapak B 'nyikut-nya' gak sekeras Bapak A, atau 'nyikut-nya' harusnya kiri dan kanan. Jika perlu pake tendang-an sekalian biar cepet jadi profesor. hahaha...".

Jangan Kredit Motor Atas Nama Teman

Suatu malam, penulis teringat masa muda penulis, ketika awal-awal bekerja. Dengan gaji nominal satu juta per bulan, penulis langsung tergoda untuk mengambil kredit motor. Maklum, penulis kala itu masih berpacaran, belum menikah, sehingga kebutuhan pun belum macam-macam. Apalagi pacar masih kuliah diluar negeri, jadi belanja untuk ngapél pun nihil. Waktu itu, penulis sedang jalan-jalan di Malang Town Square (MATOS). Sebenarnya waktu itu penulis mau lihat-lihat smartphone Android. Tetapi karena di lantai bawah memang seringkali dijadikan tempat display motor dan mobil, penulis pun sengaja muter ke lantai bawah. Dan, mata penulis langsung tertuju pada motor Honda CBR 150 yang berwarna silver gelap, dengan hiasan stiker berwarna merah gelap. Penulis pun mendekati, lalu "Owesome!" seru hati penulis karena begitu pengennya. Maklum, saat itu, model itu adalah model sepeda motor baru yang lagi booming. Jadi penulis rasa wajar, jika penulis pastinya 'kepengen banget'. Lalu kar
Cerita dalam blog ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kesengajaan penulis untuk mempercantik jalannya cerita

Popular posts from this blog

Dibangkitkan sebagai Pezina

Delapan Cerita Inspirasi tentang Doa

Nyikut untuk Menjadi Profesor

Hantu Mudik Sekeluarga

Sebuah Solusi Kekerasan Rumah Tangga

Antara Karma dan Nasib

Kumis dan Laundry Baru

Si John Thor

Hadiah Istri 70 Bidadari

Jangan Kredit Motor Atas Nama Teman