Berdansa dengan AI

Maman menghela napas dramatis di depan laptopnya, membaca artikel berita pagi ini: "Bill Gates Ramalkan AI Gantikan Dokter dan Guru dalam 10 Tahun!" Matanya berputar malas. "Ayolah," gumamnya sambil menyeruput kopi pahitnya. "Baru juga kemarin ikut pelatihan yang ternyata isinya promosi sebagai konsumen library AI."

Tiba-tiba, ide cemerlang muncul di benaknya. Dia membuka grup WhatsApp kelasnya dan mengetik, "Perhatian semuanya, mulai minggu depan, semua pertanyaan terkait materi kuliah silakan diajukan kepada asisten virtual pribadi kalian masing-masing. Bisa ChatGPT atau Gemini. Mohon maaf, saya sedang fokus pada penelitian saya tentang 'Analisis Tensor Einstein dan Persamaan Gerak Jatuh Bebas Newton'."

Beberapa detik kemudian, notifikasi grupnya berdering heboh. Berbagai pertanyaan muncul, "Pak Maman serius?", "Jadi Bapak nggak ngajar lagi?". Maman hanya membaca sambil terkekeh pelan. "Akhirnya," pikirnya, "era 'bertanya pada ahlinya' sudah berakhir. Selamat datang era 'bertanya pada algoritma'."

Di ruang dosen, Maman bertemu dengan Pak Burhan, dosen senior yang selalu bersemangat mengajar. "Man, kamu dengar soal Gates?" tanya Pak Burhan dengan nada khawatir. "Katanya kita mau diganti robot!"

Maman menanggapi dengan santai, "Justru bagus, Pak. Kita bisa lebih fokus ke hal-hal yang lebih intelek, seperti penelitian."

Pak Burhan mengerutkan kening. "Benar juga ya?", tetapi karena beliau memang tidak begitu suka penelitian, Pak Burhan sedikit keberatan.

Beberapa hari kemudian, saat jam kuliahnya tiba, Maman terlihat santai duduk di kantin sambil membaca jurnal. Beberapa mahasiswa yang kebingungan menghampirinya. "Pak Maman kok nggak di kelas?" tanya seorang mahasiswa. "Loh, kan sudah saya bilang," jawab Maman. "Silakan bertanya pada asisten virtual kalian."

Keesokan harinya, Maman mendapati email dari ketua jurusan. Isinya singkat: "Maman, tolong segera berikan penjelasan terkait 'kebijakan asisten virtual' dan 'observasi' di jam kuliah. Kita perlu membahas ini."

Maman menghela napas lagi, kali ini sedikit lebih berat. "Yah," gumamnya. "Sepertinya AI belum bisa menggantikan kemampuan manusia dalam membuat kebijakan yang fleksibel." Namun, secercah senyum kembali muncul di wajahnya. "Setidaknya, untuk saat ini, saya masih punya alasan untuk menghindari pertanyaan laporan penelitian saya yang belum berprogress."

Maman berjalan santai menuju ruang ketua jurusan, sambil membayangkan berbagai alasan kreatif yang bisa dia lontarkan. Sesampainya di sana, dia disambut tatapan tajam Bu Rina, sang ketua jurusan yang terkenal perfeksionis.

"Maman," suara Bu Rina terdengar lebih dingin dari AC ruangan. "Bisa jelaskan maksud semua ini?" Bu Rina menunjuk print out petisi online dari mahasiswa yang menuntut Pak Maman untuk kembali mengajar secara normal!"

Maman mengangkat kedua tangannya. "Saya tidak tahu apa-apa, Bu. Mungkin itu inisiatif mahasiswa sendiri... mereka mungkin merindukan saya mengajar?"

Dalam hati, Maman sedikit terkejut. Dia pikir mahasiswa akan senang-senang saja jika "didelegasikan" ke asisten virtual.

Setelah melalui sesi "pembinaan" yang cukup panjang dari Bu Rina, Maman akhirnya kembali berdiri di depan kelas. Dia melihat wajah-wajah mahasiswa yang tampak 'lega', dan juga ada yang cemberut.

"Baiklah," kata Maman memulai kuliah dengan nada sedikit lebih serius. "Sepertinya, meskipun sebenarnya kita sudah masuk di era kecerdasan buatan, untuk saat ini, kita belum siap dan masih perlu berinteraksi secara langsung. Jadi, lupakan dulu asisten virtual. Mari kita kembali membahas materi berikutnya 'Persamaan Schrödinger Satu Dimensi'."

Beberapa minggu berlalu. Maman kembali ke rutinitas mengajar, meskipun sesekali dia masih menyelipkan lelucon tentang potensi penggantian oleh AI.

Maman juga terus memantau perkembangan teknologi AI, terutama yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai dosen Fisika.

Suatu siang, saat sedang memeriksa tugas mahasiswa, Maman menerima notifikasi email dari sebuah konferensi internasional tentang inovasi pendidikan. Judulnya "Beyond the Binary: Human Educators in the Age of AI". Tanpa pikir panjang, Maman mendaftar. Dia merasa perlu memahami lebih dalam, bukan hanya dari artikel berita sensasional, tentang bagaimana AI benar-benar akan berdampak pada dunia pendidikan.

Konferensi itu membuka mata Maman. Dia melihat demonstrasi berbagai platform AI untuk pembelajaran adaptif, sistem penilaian otomatis yang canggih, bahkan avatar AI yang bisa memberikan bimbingan belajar personal.

Maman juga mendengarkan presentasi dari para ahli pendidikan yang menekankan pentingnya sentuhan manusia, yaitu empati, kreativitas, kemampuan untuk menginspirasi, dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan individual siswa yang mungkin sulit direplikasi oleh algoritma.

Di sesi terakhir, saat panel diskusi dengan salah satu pembicara kunci yang ternyata adalah seorang mantan eksekutif di perusahaan teknologi besar yang kini fokus pada pengembangan AI etis untuk pendidikan, Maman memberanikan diri mengajukan pertanyaan.

"Saya seorang dosen Fisika, dan lebih suka penelitian, dan terus terang, prediksi tentang AI menggantikan guru sedikit membuat saya merasa di pecat" kata Maman, disambut tawa kecil dari audiens. "Saya melihat potensi efisiensi itu, tapi menurut Anda, apakah prediksi itu benar?"

Sang pembicara tersenyum bijak. "Prediksi adalah prediksi, dan teknologi hanyalah alat. Kekhawatiran Anda sangat valid. AI memang akan mengubah landscape pendidikan, dan beberapa tugas rutin mungkin akan terotomatisasi. Namun, peran guru tidak akan hilang, justru akan bertransformasi. Fokusnya akan lebih pada membimbing, memfasilitasi pembelajaran yang dipersonalisasi, dan menumbuhkan keterampilan abad ke-21 yang tidak bisa diajarkan oleh mesin, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas."

Pembicara menjelaskan, justru dengan pengajaran rutin yang sudah digantikan oleh AI, pakar yang disini adalah para pengajar, dapat mempunyai ruang dan waktu luang untuk mengkembangkan diri. Dosen akan dapat menemukan atau menciptakan sesuatu yang dia telah bekerja dan ahli dibidangnya secara lebih cepat.

"Misalnya, dari hasil-hasil eksperimen yang sudah ada sampai saat ini, dari prosiding dan jurnal, Anda sebagai ahli di bidang Fisika Teori, akan lebih punya banyak waktu untuk menguji apakah model E=mc kuadrat itu benar, atau hanya kebetulan."

Maman kaget, bagaimana pembicara tahu tentang arah penelitian yang sedang dia kerjakan. Di akhir penjelasan, Maman bertanya, "Bagaimana Anda tahu saya sedang menguji Teori Einstein?"

Pembicara meminta waktu sejenak dan melakukan sesuatu dengan laptop-nya. Lalu tidak butuh waktu lama, dia menunjukkan sesuatu pada slide presentasinya, "berikut ini publikasi-publikasi Bapak bukan, Dr. Maman Suheri Suherman, S.Si, M.Sc.?" tanya pembicara.

Maman mengangguk.

Ternyata pembicara dengan bantuan AI, merangkum dan memprediksi apa yang sedang diteliti oleh Maman, "Bapak dan Ibu sekalian, ini tadi adalah contoh bagaimana AI membantu saya mengenali Dr. Maman. Sehingga, jika saya dari industri yang membutuhkan ahli di bidang Kuantum, dengan bantuan AI, pasti Dr. Maman akan menjadi salah satu dalam daftar ahli yang direkomendasikan AI untuk di ajak kerjasama." jelas pembicara.

Maman mengerti yang dimaksud pembicara, yaitu bagaimana pun juga AI akan tetap melihat manusia sebagai sumber atau ahli. Dan dia akan mempelajari keputusan-keputusan manusia tersebut sebagai acuan untuk kecerdasannya.

Sehingga, selama beberapa hari berikutnya, Maman berpikir keras, merancang ulang silabus mata kuliahnya dengan mengurangi porsi kuliah monolog dan memperbanyak sesi diskusi interaktif, studi kasus yang menantang, dan proyek penelitian mandiri sejak semester awal.

Di kelas, Maman juga mengenalkan mahasiswa pada berbagai platform AI, bukan untuk menggantikan pemikiran mereka, tetapi sebagai alat bantu untuk mempercepat mencari informasi, menganalisis data, memvisualisasikan konsep-konsep abstrak dalam Fisika, dan memperbaiki ambiguitas kata-kata dalam setiap karya mahasiswa.

Bahkan, Maman juga menargetkan di akhir semester, mahasiswa harus sudah dapat mempublikasikan karyanya. Paling tidak berupa prosiding di salah satu penerbit jurnal lokal.

Ternyata dengan metode tersebut, Maman melihat bagaimana antusiasme mahasiswa meningkat ketika mereka merasa memiliki kontribusi nyata dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Bu Rina, yang awalnya skeptis dengan "eksperimen" Maman, kini tampak terkesan melihat mahasiswanya menjadi lebih produktif, yang berpengaruh terhadap reputasi jurusan yang dipimpinnya. Sampai-sampai Bu Rina menawarkan metode mengajar Maman untuk diimplementasikan untuk seluruh mata kuliah di jurusan.

Maman merasa bangga, dia menyadari bahwa perannya sebagai dosen tidaklah tergantikan, melainkan bertransformasi. Dia bukan lagi sekadar penyampai informasi, tetapi seorang mentor, fasilitator, dan inspirator yang membantu mahasiswanya mengembangkan potensi diri yang mau tidak mau hidup bersama AI.

Beberapa tahun kemudian, Maman, yang kini sudah mendekati usia kepala enam, mengetahui prediksi Bill Gates tentang perubahan memang benar adanya. Sektor kesehatan dan pendidikan, telah terintegrasi dengan AI. Bahkan banyak universitas yang hanya menawarkan sertifikasi, tanpa mahasiswa harus hadir kuliah dan menempuhnya selama empat tahun.

Maman juga membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, manusia dan AI dapat bekerja sama, bukan saling menggantikan. Dan berdansa dengan AI adalah bagaimana Maman menggunakan AI membantunya dalam perhitungan numerik, untuk mendapatkan gelar profesornya, yaitu di bidang "Fisika dan Gravitasi Kuantum".

Comments

Cerita dalam blog ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah ketidak-sengajaan penulis untuk jalannya cerita. Dan Blog ini adalah bagian dari Usaha di bawah nama branding Edugameapp yang menyediakan layanan berupa cerita pendek bergenre umum, humor dan horor yang diperuntukkan untuk pengguna internet dewasa.

Popular posts from this blog

Cerita Hantu Berantai episode III: Kontrakan

Cerita Hantu Berantai episode I: Kampung

Dibalik Naiknya Belanja Sri

Kisah Horor: Panggilan Ayah

Antara Karma dan Nasib

Sahur Sendiri bersama Kunti

Cerita Hantu Berantai episode II: Kantor

Dibangkitkan sebagai Pezina